Jumat, 28 Oktober 2011

Cinta Kasih dan Persaudaraan Sesama

IDUL FITRI

HARI RAYA KESUCIAN MANUSIA

CINTA- KASIH DAN PERSAUDARAAN SESAMA


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

Khutbah Hari Raya Idul Fitri

1 Syawal 1421 H/ 27 Desember 2000 M

Masjid Istiqlal, Jakarta


 


 


 


 


 


 


 

Oleh :

Nurcholis Madjid


 


 

Hadirin Kaum Muslimin-Muslimat yang bgerbahagia…..!

Pertama-tama kita ucapkan syukur kepada Allah SWT atas nikmat dan karunia yang telah kita terima, yang tidak terbilang banyaknya. Kita mohon bimbingan-Nya, karena barang siapa dibimbign Allah SWT , maka tiada seorangpun mampu membimbingnya. Kita saksikan bahwa tiada suatu tuhan apapun selain Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Al-Ahad, yaitu Tuhan yang sebenar-benarnya. Dan kita saksikan bahwa Muhammad adalah utusan Allah SWT dan Hamba-nya. Kemudian kita mohonkan salawat dan salam Allah SWT unutk junjungan kita itu, beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

Sesudah itu semua, " Wahai mereka yang beriman, bertaqwalah kepada Allah SWT dengan sebenarbenar taqwa, dan jangan sampai kamu mati kecuali kamu adalah orang-orang yang berserah diri, tuinduk –patuh kepadanya." (Al-Qur'an ,s. Alu'Imran/3:102).


 

Hadirin Kaum Muslimin-Muslimat yang bgerbahagia…..!

Inilah hari raya kita semua, hari raya kemanusiaan universal, hari raya kesucian primordial mnusia, hari raya fitrah, hari raya manusia sebagai makhluk hanif, makhluk yang meriondukan kebenaran dan kebaikan, yang berbahagia karena kebenaraan dan kebaikan.

Hari raya puncak perolehankeruhanian kita setelah sebulan berpuasa, hari raya kembai kefitrah, kesucian asal ciptaan Allah SWT untuk manusia,Idul I-fithr-i. Kita kembali kefitrah kesucian adalah atas bimbingan Allah SWT , Tuhan Yang Maha Esa,melalu latihan menahan diri yang kita jlankan dengan penuh ketulusan, yang telah kita genapkan bilangan nya selama sebulan. Maka dihari ini kita kumandangkan takbir, tahmid dan tahlil, sebagai pernyataan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala petunujuk-Nya itu.

(Dan kehendaknya kamu sempurnakan bilangan hari berpuasa itu, kemudian kehendaknya kamu kumandangkan takbir, menggungkan Allah SWT , atas hidayah yang telah dikaruniakan kepda kamu dan hendaknya sekalian bersyukur).(Al-Qur'an, s. al-Baqarah/2:185).


 

Hadirin Kaum Muslimin-Muslimat yang bgerbahagia…..!

Disebabkan oleh hakikatnya yang terkait langsung dengan ajaran dasar agama, maka Hari Raya ini adalah peristiwa yang amat sentral dalam kehidupan kaum beriman. Maka marilah kita renungkan sejenak makna dan hakikat Hari Raya ini. Secara budaya keagamaan di negri kiata tercinta ini k ita ucapkan Min Al- Aidin wa I-Faizin, semoga kita semua tergolong mereka yabng kembali kefitrah, dan berhasil tidak sia-sia menjalankan ibadah puasa, syiam, sawm, ibadah latihan menahan diri terhadap godaan hawa nafsu pendorong kejahatan, al-nafs al-ammarah, dan membersikan jiwadari dosa. Karena memang kembali kembali kefitrah itulah hasil wujud utama dari semangat taqwa yang menjadi tujuan ibadah puasa. Tujuan itu terdapat secara umum dan universal pada semua manusia. Karena itu setiap umat mempunyai crara sendiri dalam menjalankan ibadah puasa, sebagai mana kita umat Muhamad juga punya cara sendiri menjalankannya. Semuanay itu dengan tujuan membentuk manusia yang bertaqwa. Begitulah disebutkan dalam Kitab Suci:



 


 


 

( Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu semua berpuasa sebagaimana telah diawajibkan a tas mereka sebelum kamu, supaya kamu semua bertaqwa). (Al-Qur'an,s. Al-Baqarah/2:183).


 

Lalu apa makna dan hakikat taqwa itu? Yang utama dan pertama ialah beriman kepada allah dalam kegaiban, dalam keadaan kita tidak melihat-Nya dengan mata kepala kita, namaun kita menyadari kehadiran-Nya dalam hidup kita. Taqwa ialah kesadaran bahwa Allah SWT beserta kita dimanapun kita berada, dan Allah SWT itu mha tahu atas segala sesuatunya yang kita perbuat.



 


 


 


 

(Dan mengetahui apa yang masuk kebumi dan yang keluar dari padanya, dan apa yang turun dari langit dan yang naik kepadanya. Dia berasama kamu dimanapun kamu berada. Dan Allah SWT melihat segala sesuatu yang kamu kerjakan ). (Al-Qur'an,s. al-Hadid/57:4).


 

Menanamkan kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam hidup itulah tujuan semua ibadat, dan hikmah seluruh ajaran Tuhan dalam semua kitab suci. Al-qur'an menyebut dirinya sebagi kita yang tiada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa, yang sifat pertamanya ialah beriman kepada keghaiban, atau beriman dalam keghaiban.

Dan Al-Qur'an juga menyebutkan bahwa kitab-kitab suci sebelumnya, seperti yang diturunkan kepada nabi Musa bersama Nabi Harun, adalah juga dengan tujuan menanamkan kesadaran orang-orang yang bertaqwa, yang takut kepada Tuhan dalam keghaiban , dalam keadaan mereka tidak melihat-Nyata namun sadar akan kehadiran-Nya, sama dengan tujuan Al-Qur'an:



 


 


 


 


 


 

(Dan sesungguhnya telah kami berikan kepada Musa dan Harun al-furqan –pedoman tegas tentang benar dan salah, dan sebagai cahaya serta penerang bagi orang-orang yang bertaqwa. Yatiu orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam kegaiban, dan mereka merasa ngeri dengan hari kebangkitan. Dan ini (Al-Qur'an ) adalah pelajaran yang diberkati, yang telah kami turunkan. Apakah kamu ingkar kepadanya ?! (Al-Qur'an,s. al-Anbiya/21:48-50)


 

Berdasarkan ajaran pokok itu Al-Qu'an juga mengahjarkan bahwa percobaan Allah SWT berupa adanya godaan penyelewengan adalah untuk diketahui sipa yang takut kepada Allah SWT dalam keghaiban, da siapa yang takut kepada Allah SWT dalam keghaiban, dan siapa yang tetap melanggar dalam keghaiban itu (…Agar Allah SWT mengetahu siapa yang takut kepada-Nya dalam keghaiban. Maka barangsiapa masih melanggar sesudahnya, baginya ialah azab yang pedih). (Al-Qur'an ,s.al-Maidah/5:94)

Beriman kepada Allah SWT dalam keghaiban ! takut kepada Allah SWT dalam keadaan kita tidak melihat-Nya, tapi kita menyadari akan kehadiran-Nya dalam semua kegiatankita. Itulah taqwa! Itulah tjuan kiita berpuasa. Maka jika kita tidak dapat mencapai tujuan itu dengan sendirinya puasa kita adalah sia-sia, adalah muspra tanpa guna. Kita berpuasa hanya mendapatkan derita lapar dan dahaga semata. Sebab jika kita masih melanggar batas dalam keghaiban, maka sesungguhnya kita tidak beriman. Atau, paling tidak iman kita cacad, tidak sempurna. Nabi SAW mengajarkan, bahwa orang tidak akan berbuat dosa selagi dia beriman. Atau, tidaklah ia beriman selagi ia menjalankan perbuatan dosa:


 


 

(Tidaklah orang berzina ketika berzina itu beriman; tidaklah orang itu mencuri ketika orang itu beriman; dan tidaklah orang minum itu minum khamar ketika meminumnya itu beriman…). (Hadits sahih, Kitab Hujaj Al-Qur'an, 1:47).


 

Oleh karena itu sepatutnya kita senantiasa merenungkan keadaan diri kita. Kita semua merasa diri kita sebagai kaum beriman. Tetapi dalam kenyataannya acapkali kita dapat menahan diri, kemudian tergoda melakukan dosa, padahal Allah SWT senantiasa menyaksikan. Dalam fikiran kita selalu ada ancaman adanya momen, saat sekejap betapapun singkatnya, ketika kita lalai, bahkan ingkar, akan kehadiran tuhan dalam hidup kita, bahwa tuhan bersama kita dimanapun kita berada.


 

Jadi sesungguhnya kita kaum beriman ini senantiasa terancam kehilangan iman. Karena itu Allah SWT tetap memperingatkan kita kaum beriman untuk beriman! Yaitu beriman kepada Allah SWT dan Rasul-nya, dan kepada ajaran Kitab Suci yang diturunkan kepada Rasul itu, serta kepada ajaran kitab-kitab suci yang diturunkan kepada Rasul sebelumnya.



 


 


 


 


 


 


 


 


 

(Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kamu semua kepada Allah SWT dan Rasul-nya dan kepada kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para rasul-Nya dan hari kem,udian, maka sesungguhnya ia telah sesat sejauh-jauhnya). (Al-Qur'an,s. al-Nisa/4:136).


 

KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT YANG TERHORMAT

Sekarang, pertanyaan nya ialah, mengapa kita selalu terancam untuk melakukan dosa, ingkar kepada Allah SWT, melangar larangan-Nya? Mengapa kita setiap saat dapat lupa Allah SWT, mengabaikan perjanjian kita sda\engan pencipta kita, dan menerjang batas-batas yang ditetapkan-Nya?


 

Sebabnya ialah, karena kita semua adalah anak cucu Adam, Bani Adam. Dan Adam, beserta istrinya, pernah terusir dari surga, tersugkur jatuh kedalam hidup hina, penuh derita dan nestapa, karena leluhur manusia itu telah tergoda!

Yaitu tergoda oleh bisikan jahat setan untuk melanggar larangan Tuhan, karena janji palsu akan hidup abadi dan memiliki kekuasaan yang bakal bertahan sepanjang zaman.

Kitab Suci Al-Qur'an dengan jelas menggambarkan hal itu :


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

(Sesungguhnya Kami telah buat janji kepada Adam sebelumnya, namun ia lupa dan tidak kami dapati padanya keteguhan jiwa.

Ketika kami berkata kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", maka merekapun sujud, kecuali iblis, ia durhaka.

Lalu kami berkata:"Hai Adam, sesungguhnya ini adalah musuh bagimu dan istrimu, mak sekali-kali janganlah sampai ia menyebabkan kamu berdua keluar dari surga, yang kamu menjadi sengsara. Sesungguhnya di surga itu kamu tidak akan kelaparan, dan tidak akan pula telanjang.

Dan sesungguhnya kamu juga tidak akan kehausan, dan tidak pula akan kepanasan."

Kemudian setan menggodanya, dan berkata:"Hai Adam, maukah engkau aku tunjukan pohon kehidupan abadi(syajarat-u 'l-khudl-i)

Dan kekuasaan yang tidak akan binasa(mulk-un la yabla)?"

Maka keduanya, Adam dan Hawa', memakan buah dari pohon itu, dan jadi nampaklah pada mereka, lalu mulailah keduanya menutupi diri dengan dedaunan surga. Adam telah dhurhaka kepada Tuhanya, maka sesatlah ia.

Kemudian Tuhan mengankatnya, maka diberinya taubat dan bimbinganya). (Al-Qur'an,s. Thaha/20:115-122).


 

Begitulah penuturannya suatu babak dalam cerita langit, suatu drama kosmis, yang melibatkan leluhur manusia.

Adam terikat janji dengan Tuhan untuk taat kepada-Nya. Namun ia lupa, karena godaan setan yang menawarkan hidup abadi(syarat-u l-khuld-i), dan kekuasaan yang takkan binasa (mulk-un la yabla)

Mereka berdua melanggar, memakan buah pohion terlalarang, ;upa akan janjinya kepada Tuhan.


 

Keinginan hiup abadi! Akibatnya ialah kita menjadi serakah, terkungkung nafsu membekali diri dengan mengumpulkan kekayaan untuk tujuh turunan, tidak peduli dengan penyelewengan, kecurangan!


 

Nafsu mendapatkan kekuasaan yang takan binasah! Maka kita pun mengabaikannya sefala ketentuan, melanggar segala larangan, demi segala kekuasaan agar tetap bertahan.


 

Harta dan tahta! Itulah yang selalu menggoda manusia, hasil bisikan iblis musuh Tuhan yang terlaknat sampai hari kiamat. Itulah yang mendorong manusia jatuh tidak hormat, kehilanga harkat dan martabat.


 

Kita umat manusia adalah anak cucu Adam. Maka kitapun menyimpan dalam diri kita hawa nafsu serakah kepad harta dan tahata, yang membuat kita lupa akan segala larangandan batasan. Maka seperti Adam dan Hawa', leluhur kita yang diusir dari surga, kita selalu terancam mengalami kejatuhan yang hina, hidup penu derita dan nestapa, sampai datang saatnya kita kembali kepada Tuhan umat manusia, anak cucu Adam, akan terus hidup bermusuhan, saling membunuh, dan membuat kerusakan, kecuali mereka yang mendapat bimbingan, rahmat, dan kasih sayang Tuhan.



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

(Dia-Tuhan- bersabda:" Turunlah kamu berdua dariu surga bersama-sama, sebagian kamu musuh sebagian lain. Maka jika datang kepada kamu petunjuk dari pada-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit-sesak, dan kami akan menghimpunya pada hari kiamat dalam keadaan buta".

Maka ia berkata:"Ya Tuahanku, mengapa Engkau himpun aku dalam keadan buta, padahal aku dahulu melihat?"

Dia bersabda:"Demikianlah, telah datang kepadamu ajaran-ajaran kami, lalu engakau melupakannya. Dan begitulah pada hari ini engkaupun terlupakan".

Demiokian itulah kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ajaran-ajaran Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat kelak lebih dasyat dan lebihkekal.


 

Maka tidaklah menjadi petunjuk bagi mereka, betapa banyaknya kami binasahkank sebelumnya generasi-generasi, yang mereka berjalan dihunian mereka yang hancur binasah itu? Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berpengertian.

Dan sekiranya tidak ada suatu ketetapan terlebih dahulu dari Tuhanmu, pastilah azab besar menimpa mereka sekarang juga!). (Al-Qur'an, s. Thaha/20:123-129).


 

Itulah Adam dan Hawa', kake dan nenek kita yang mewariskan kepada kita bahaya keserakahan harta karena ingin hidup abadi dan nafsu berkuasa yang tidak akan berhenti.

Karena potensi keserakahan itulah, para malaikat dahulu telah menduga bahwa Adam dan keturunannya akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah tanpa peduli. Walaupun begitu, rahmat dan kasih sayang Allah SWT meliputi segala sesuatu, dan dia adalah Penerima taubat:



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

(Katakanlah:"Hai para hamba, umatku, yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri mereka, janganlah berputus asa dari rahmat Allah SWT! Sesungguhnya Allah SWT mengampuni segala dosa.


 

Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kembalilah kamu sekalian kepada Tuhanmu, dan berserahlah diri kepda-Nya, sebelum datang azab kepadamu dan kamu tidak tertoong lagi. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, dan kamu tidak menyadarinya. Janganlah sampai kelak ada yang berkata: 'Kalau saja Allah SWT memberiku petunjuk, tentulah aku termasuk mereka yang bertaqwa.' Atau janganlah sampai kelak ada yang berkata, ketika melihat azab:'kalau saja aku dapat kembali ke dunia, niscaya aku akan termasuk kereka yang beramal kebajikan." Sebenarnyalah, telah datang berbagai keterangan-Ku kepadamu, namun engkau termasuk mereka yang ingkar)

(Al-Qur'an, s. al-Zumar/39:53-59).


 

Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna! Namun jika kita lalai dan terlupa, Allah SWT selalu membuka pintu pertaubatan.

Maka saat inilah, saat Hari Raya Kesucian Manusia inilah, saat hari besar kembalinya kita semua ke fitrah, adalah saat untuk membulatkan tekad, meneguhkan niat, menyudahi segala kesalahan, dan kembali ke fiotrah ke sucian.

Kita sudahi segala tingkah laku yang melannggar keluhuran budi, dan kita hentikan semua tindakan yang mengundang hukuman Tuhan.


 

Hari ini, pada Hari Raya Fitrah ini, adalah saat yang kita menarik pelajaran dari leluhur kita, Adam dan Hawa'.

Janganlah sampai kita mengulanginya pelanggaran Adam dan Hawa', menuruti bisikan setan, mengumbar hawa nafsu keserakahan karena janji palsu hidup abadi dan kekuasaan yang tak bakal terhenti.


 

Hari Raya ini adalah kesempatan yang amat baik untuk merenung, dengan ingatan dan menagkap isyarat do'a yang diajarkan Allah SWT kepada kita semua,



 


 


 


 


 


 


 


 


 

(Katakanlah:"Wahai Tuhan Pemilik segala kekuasaan, enkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Enkau kehendaki, dan Enkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Enkau kehendaki;Enkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki, dan Enakau hinakan siapapun yang Enkau kehendaki.

Di tangan-Mu kebajikan. Sesungguhnya Enakau Maha Kuasa atas segala sesuatu). (Al-Qur'an, s. Alu 'Imran/3:26).


 


 


 


 


 

KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT YANG TERHORMAT,


 

Bangsa kita mengalami malapetaka yang dahsyat, tidak yag lalu, karen asebagian dari kitalupa akan pesan kisah Adam dan Hawa', leluhur umat manusia.

Kita telah melanggar perjanjian antra manusia dan Tuhan, dan kita terjarang larangan-Nya, kita langgar batas-batas ketentuan-Nya.

Dampak dari semua pelanggaran itu masih terus berlangsung dan masih terasakan sampai sekarang. Kita bertikai mengumpulkan harta dan kekayaan, kita bersengketa berebut kedudukan dan kekuasaan.


 

Kita nampaknya sedang mengulangi lagi kesalahan Adam. Akankah kita, seperti leluhur kita itu, juga tercampak dalam kehinaan, kehiolangan semua nilai suci kemanusiaan, merusak tatanan hidup dan lingkungan yang damai sejahtera, terjerembab ke dalam jurang permusuhan dan pertumpahan darah yang tidak berkesudahan?!


 

Semoga tidak! Dan dengan datangnya Hari Raya Kesucian Manusia ini, kita berkesempatan memperbaiki diri, melakukan introspeksi dan kembali kepada kejadian primordial yang suci.


 

Dalam suasana dan kesadaran kesucian itu, kita akan kembali kepada kebahagian primordial kita, tempat leluhur kita Adam dan Hawa' hidup bebas dan bahagia, yaitu kehidupan aman, tentram dan damai.

Dalam kebahagaian itu, tidak ada sumpah-serapah dan caci-maki, melainkan ucapan salam, damai untuk semua:


 


 


 


 

(Di sana mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia, juga tidak ucapan tuduhan berdosa, melainknan ucapan "Damai, damai!"semata). (Al-Qur'an, s. al-Waqi'ah/56:25-26).



 


 


 

("Damai!" sebagi tegur-sapa dari Tuhan Ynag Maha Kasih). (Al-Qur'an, s. Yasin/36:58).


 

Dalam suasana rahmat dan kasih-Nyaitu, Allah SWT mengajarkan kepada kita bahwa hakikat kemanusiaan adalah suatu, dengan tetapan ada perbedaan yang tidak hakiki, yang perbedaan itu tidak seharusnya membawa kepada pertikaian.


 


 


 



 


 


 


 


 


 


 

(Tiadak manusia itu melainkan umat yang satu (sama), kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena sesuatu keteapan yang ada dari Tuhanmu, pastilah telah diberi keputusan di antar mereka. Tentang apa yang mereka perselisihkan tiu). (Al-Qur'an, s. Yunus/10:19)



 


 


 


 


 


 

Karena itu, dalam suasana hidup penuh kedamaian tidaklah berarti bahwa perbedaan sesama manusia akan lenyap.

Perbedaan yang tidak hakiki akan selamanya tetap ada di antara manusia. Tetapi dengan anugrah rahmat dan kasih-Nya kepada manusia, perbedaan itu tidak akan membawa pertikaian, dan memang demikian itulah Allah SWT menciptakan manusia.


 

Perbedaan antara sesama manusia akan menjadi pangkal selisih dan sengketa, kecuali jika ada anugrah rahmaat kasih sayang Allah SWT kepada kita. Sebaliknya, jika tiada naugrah rahmat kasih sayang Allah SWT itu kepada kita, kemudian terus-menerus bersaling sengketa dan bertikai, maka itulah jaminan kita bakal hidup sengsara:




 


 


 


 


 


 


 


 


 

(Seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan seluruh manusia umat uyang tunggal. Namun mereka selamanya akan berselisih, kecualali yang mendapatkan kasih Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah SWT menciptakan mereka. Sabda Tuhanmu telah sempurna:"Pastilah Aku penuhi Jahanam dengan jin dan manusia sekalian!"). (Al-Qur'an, s. Hud/11;118-119).


 

Maka dengan rahmat Allah SWT, perbedaan bukanlah suatu cacad atau kekurang. Perbedaan akan membawa barkah dan hikmah karena dapad menjadi pendorong perlombaan antara kita menuju berbagai kebaiakan. Perbedaan sesama manusia adalah kehendak dari rahasiah Ilahi, dan kelak dalam alam Akhirat setelah kita mati, barulah kita akan mendapatkan keterangan apa hakikatnya


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

(…..Untuk setiap umat diantara kamu, Kami telah berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranaya Allah SWT kehendaki, niscaya Dia jadikan kamu, umat manusia, umat yang tunggal . tetapi Allah SWT hendak menguji kamu dalam hal yang telah danugrahkan-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah kamu berbuat bagai kebijakan. Kepada Allah SWT-lah kembalimu semua, maka Dia akan jelaskan kepadamu tentang segala sesuatu yang telah kamu perselisihan itu…). (Al-Qur'an, s. al-Mai'idah/5:48)



 


 


 


 


 


 


 


 


 

(Dan setiap umat punya arah kemana ia menghadapkan diri. Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbagai kebajikan. Di manapun kamu berada pasti Allah SWT akan kumpulkan kamu sekalian. Sesungguhnya Allah SWT Maha Kuasa atas segala sesuatu). (Al-Qur'an, s. al-Baqarah/2:148).


 

Bagi sementara kalangan di antara kita, perbedaan lahiri antara berbagai golongan disalah fahami sebagai perbedaan hakiki. Maka bagi mereka itu, seperti halnya bagi kaum musyrik, sulit sekali memenuhi ajakan untuk tidak berpecah belah, untuk bersatu dalam ajaran-ajaran dasar kesucian dari Tuhan Yang Maha Esa. Seperti difirmankank Allah SWT subhanahu wa-ta ala.


 



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

(Dia—Allah SWT – telah tetapkan syariat bagi kamu berupa agama, sebagaimana Dia telah wasiatkan kepada Nuh, dan seperti yang Kami-Allah SWT –Wahyukan kepada engakau-Muhammad-,dan seperti yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa: Hendaknya kamu tegakan agama itu, dan jangan berpecah belah didalamnya. Terasa berat atas orang-orang musyrik apa yang kau serukan ini-hai Muahamad ! Allah SWT mengankat kepada-Nya siapapun yang dikehendaki, dan Diberi petunjuk siapapun yang bersedia kembali). (Al-Qur'an, s. al-Syura/42:13).


 

Maka karena persamaan dasar syariat agama semua nabi itu, Allah SWT ajarkan kepada kita sekalian agar beriman kepada semua kitab suci dan semua nabi, tanpa membeda-bedakan salah seorang pun diantara mereka.

Ajaran semua nabi itu sama, karena semua berasal dari Allah SWT dan semua kembali kepada-Nya.



 


 


 


 


 


 


 


 


 

(Rasul telah beriman kepada yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula kaum beriman. Semuanya beriaman kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab suci –Nya, dan rasul-Nya", dan mereka berkata:"Kami dengar dan kami patuh. Ampunilah kami ya Tuhan, dan engkaulah semuanya kembali"). (Al-Qur'an, s. al-Baqarah/2:285).


 

Memang dalam kenyataanya, perbedaan lahiri, perbedaan yang tidak hakiki, tidak semuanya dapat dihindari. Demikian itu, antar lain karena adanya perbedaan latar belakang lingkungan kehidupan, baik lingkungan alam maupun lingkungan kemasyarakatan.


 

Tetapi melalui kegiatan berlomba-lomba mpenuju kepada berbgai kebaikan(al-khayarat), perbedaan yang ada akan justru membawa kepada hikmah rahmat Alla, karena menyediakan proses pembiakan selang untuk kuatnya pandangan dan wawasan. Nabi s.a.w. bersabda,"Perbedaan umatku adalah rahmat"( )


 

Maka manusiapun berbeda-beda dan terbagi-bgai menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, semuanya tercipta atas kehengdak Allah SWT, agar kita salaing kenal dan daling menghargai, bukan untuk menjadi alasan membagi-bagi manusia secara diskriminatif, dengan pembagian tinggi-rendah yang tidak berdasarkan hasil kerja atau jasa kepada sesama manusia. Dalam pandangan Ilahi, manusia seluruhnya adalah sama, kecuali berdasarkan tingkat taqwanya:



 


 


 


 


 


 

(Hai umat manusia, sesungguhnya kami ciptakan, kamu dari lelaki da perempua, dan kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT ialah yang opaling bertaqwa. Sesungguhnya Allah SWT Maha tahu lagi Maha Teliti). (Al-Qur'an, s. al-Hujurat/49:13).


 

Maka kembali lagi kepada taqwa, bahwa yang pa;ing bertaqwa di antara manusia itulah yang paling mulia di sisi Allah SWT.

Orang yang bertaqwa, yang sadar akan kehadiaran dan pengawasan Tuhan dalam semua kegiatan dan kerja. Yang mampu mengendalikan diri, bebas dari bisikan jahat setan yang terkutuk, yangmendorong manusia kepada perbuatan dosa akibat keserakahan kepada harta dan hawa nafsu berkuasa selamanya.


 

Orang yang bertaqwa, yang tahu batas larangan Tuhan, dan yang selamat dari jatuh martabat, terhindar fari dosa yang membawa malapetaka kepada masyarakat dan umat.


 

KAUM MUSLIMIN DAN MUSLIMAT YANG TERHORMAT,


 

Maka, akhirnya, marilah kita ambil hikmah Hari Raya ini dengan sebaik-baiknya.

Marilah kita semua kembali kepada kesucian asal kita, kesucian fitrah yang hanif, yang dengan tulus mencari dan mengikuti kebenaran dan kebaikan.

Marilah kita tanamkan taqwa dalam diri kita, menyadari kehadiran Tuhan dan pengawasan-Nya dalam segala kegiatan. Marilah kita lawan godaan setan yang mendorong nafsu serakah, dan marilah kita tegakan keadaan keadilan, demi kebahagian kita seluruh warga masyarkat dan negara tan pa perbedaan.

Marilah kita galang persaudaraan antar umat, antar suku bangsa, dan antar sesama manusia seluruhnya.

Marilah kita wujudkan masyarkat dan negara yang tertib, aman dan damai, yang membuat bahagia seluruh warga negara.

Marilah kita wujudkan itu semua dengan iman, amal kebijakan, bebas dan syirik pemujaan kepada harta dan kekuasaan.



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

(Allah SWT janjikan kepada mereka yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal kebijakan, bahwa Dia pasti akan jadiakan mereka penguasa di bumi, sebagimana Dia telah jadikan sebelumnya orang-orang berkuasa, dan pasti Dia akan teguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia pasti akan mengubah mereka dari suasana ketakutan menjadi aman tentram. Mereka beribadat kepada-Ku, tanpa mempersekutukan akuk dengan sesuatu apapun. Barang siapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang fasik). (Al-Qur'an, s. al-Nur/24:55).


 

Semoga Allah SWT menganugrahkan kepada kita rahmat, taufiq, hidayah, dan inayah-Nya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright Artikel, Skripsi 'N Tesis 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .